Kamis, 29 Januari 2015

Kehidupan

Keluarga seharusnya saling menyayangi tapi sayang, rasa sayang itu tidak aku rasakan. Mereka membenciku, melihat diriku penuh amarah dan malu. Terngiang kata-kata Bapak yang membuatku terpojok disudut ruangan hampir setahun belakangan ini.

“Kamu jangan keluar kamar, apalagi keluar rumah! Bikin malu”

Namaku Aldo, Temanku hanya pantulan diriku pada cermin, jendela kamarku telah terpatri dengan kayu dari sisi luar, membuatku tidak bisa membedakan pagi dan malam. Amarahku mulai menumpuk, seribu tanya dan luapan emosi tak dapat ku bendung lagi, kuputuskan hari ini aku harus keluar dari kamar busuk ini.

____

GUBRAK!

“Jahanam kalian semua, tega mendekap aku selama berbulan-bulan, apa salahku?” Ku dobrak pintu kamar dengan penuh dendam.

“Kamu, anak laki-laki tak tau diri, kurang ajar!” Sahut Bapak tak kalah geram.

“Aku tidak pernah berharap untuk dilahirkan menjadi anak laki-lakimu”

Dengan secepat kilat lelaki bertubuh gempal itu berlari seraya mengepalkan pisau di tangan, sayup-sayup suara teriakan ibu dan adikku bersautan, berharap ada yang meleraikan kami.

____

Pisau telah terhunus pada lelaki yang dulu kupanggil bapak. Mungkin dia lupa dulu aku pernah menjadi anak lelakinya.

Kudapati diriku berjalan meninggalkan rumah dengan senyum kemenangan, rambut indah dan pakaian baru yang telah lama ingin kupakai, baju model u can see dan rok flare terbaru. Akhirnya kehidupanku yang lama telah tutup buku, Namaku Alda dan inilah saatnya memulai kehidupan keduaku, hidup baru tanpa batas.


http://mondayflashfiction.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...