Minggu, 25 Agustus 2013

Lyvia 1st Movie : Pentingnya pendengaran bayi.

Mungkin sih postingan ini udah telat hampir 1 bulan, tapi nggak apa-apalah ya. 



Sekarang kegiatan nonton di movie theater pasti udah nggak asing lagi kan? Nah kegiatan ini bahkan udah jadi rutinitas pasangan-pasangan, nah bagaimana yang membawa bayi/balita?

Postingan ini saya tulis karena saya sendiri mengalami hearing loss sedari bayi, bukan karena kesalahan orang tua tapi memang dari karuniaNya harus seperti ini, jadi saya ingin Lyvi lebih bisa mendengar suara-suara indah yang mungkin tidak saya dengar, dan alasan kedua adalah rasa concern terhadap orang tua yang membawa bayi nya nonton film tanpa memberikan perlindungan apapun terhadap kuping bayi mereka. Lyvia baru saya bawa nonton di usia 11 bulan, tapi banyak lho yang membawa anak di usia 6 bulanan. 
Mungkin anak yang dikira tidur ketika nonton bioskop dikira nyaman dengan suasananya, atau mungkin dikira anak yang aktif menonton dikira senang, tapi kita saja yang dewasa kadang suka sakit kan kupingnya kalau suara di dalam bioskop terlalu kencang? Nah apalagi bayi kan?

Yang sangat harus disediakan bila membawa bayi adalah earmuff, eits tapi bukan earmuff seperti yang dipakai di musim salju ya! Earmuff yang dimaksud adalah earmuff kedap suara, kalau orang dewasa suka pakai ketika latihan menembak atau bermain drum agar kuping tidak mengalami kerusakan.

Earmuff yang saya beli bermerek babybanz, tapi ada juga peltor yang juga sangat direkomendasikan, ukurannya ada dari newborn sampai toddler. Saya benar-benar searching earmuff ini demi bisa nonton bioskop, walaupun searching agak lama, tapi worth to buy!



Kenapa harus memakai earmuff?
Alasan utama yang pasti adalah untuk menjaga kesehatan kuping bayi, agar tidak terjadinya 'hearing loss' atau kehilangan pendengaran. Karena setiap paparan suara diatas 100 decibel yang didengar  akan membahayakan anak-anak apalagi telinga kecil mereka akan menguatkan suara sebesar 20 decibel daripada yang di dengar oleh orang dewasa.

Earmuff juga harus dipakai ketika pergo karokean, menonton konser, pertandingan, dan naik pesawat. Kalau di runaway pesawat suka liat petugas yang pakai headphones? Nah earmuff yang dipakai persis seperti itu.

Earmuff tidak membuat anak jadi tidak bisa mendengar sama sekali. Anak tetap akan mendengar tapi dengan volume suara yang lebih kecil. Earmuff juga nyaman karena terdapat busa-busa tebal yang membuat telinga tetap tertutup dan earmuff tidak bergeser.

Nah sekarang kalau mau nonton jangan lupa perlindungan kuping untuk anaknya ya..


Saya menonton Conjuring - film horor di kota kasablanka bersama saudara-saudara lainnya jadi didalam bioskop rata-rata keluarga saya jadi kalau Lyvi rewel mereka bisa maklum tapi kalau banyak orang lain pasti udah nggak nyaman tapi untungnya lyvia tidur selama menonton.

Pengalaman menonton pertama yang sebenarnya bikin saya deg-degan secara film horor saya takut tiba-tiba teriak karena kaget dan takut suara-suara seram membuat lyvia terbangun ternyata earmuff berkerja dengan baik, hehe. 

Ini pengalaman nonton bersama bayi ya, kalau balita pasti berbeda, mereka udah bisa jalan-jalan kalau bosan. Yang pasti kalau balita, pastikan stock makanan dan mainan teraedia. Hihi.


Berikut tips membawa bayi menonton:

1. Pilih jadwal yang tidak terlalu padat, agar tidak menganggu penonton lain ketika bayi rewel. Atau sesuaikan dengan jam tidur bayi, kalau waktunya mereka tidur dijamin bayi akan tidur selama kita menonton. Ini yang dialami lyvi ditambah dengan earmuff tidurnya pulas sekali..

2. Bawa mainan atau makanan cemilan.

3. Bawa nursing cover bila masih menyusui.

4. Pakaikan baju yang agak tebal agar tidak kedinginan.

5. Bersedia keluar jika anak rewel dan tidak bisa ditenangkan.

Nah sudah siap menonton? Selamat menonton!

Selasa, 20 Agustus 2013

Lyvia, Lyvia

Sudah hampir setahun menikmati peran baru saya, menjadi Ibu. Tiba-tiba pengen aja nulis tentang anak tercinta, ya saya jarang nulis tentang perkembangan milestonenya, padahal pas hamil dulu bikin janji untuk nulis milestone atau bikin blog khusus Lyvi, tapi nulis di blog sendiri aja masih nggak konsisten. salut sama Ibu-ibu yang konsisten untuk nulis tentang anak dan membuat progresnya. Jadi ya disini aja deh nulis tentang Lyvi, sesempetnya, dan kali ini berjanji harus disempet-sempetin karena tulisan ini suatu saat akan menjadi kenangan.

Lyvia Lennon
Saya menikah diusia <s>19 tahun</s> ralat 18 tahun tepat dihari ulang tahun saya, Desember 2011. lalu langsung hamil di bulan Januari 2012. Selama kehamiulan tergolong proses yang mudah, saya selalu menanamkan hypnosis diri bahwa saya sehat dan kuat, alhamdulillah kejang-kejang diperut saya abaikan saja. Lagipula saya bukan pribadi yang suka dikasihai dan mendramatisir keadaan pada saat hamil, dikarenakan teman saya yang juga masih pada muda-muda, saya tidak ingin memberikan kesan bahwa hamil menyakitkan dan melahirkan lebih menyakitkan lagi. hehe
Tapi yang sulit itu adalah mendengar gosip tentang saya yang bertubi-tubi dari segerombolan kelompok, gosip saya hamil di luar nikah. hiks. Untungnya ada sahabat dan keluarga yang menguatkan saya, agar tak mudah terpancing emosi.

Maka dari itu, untuk yang berniat nikah muda, satukan pikiran dengan calon pasangan, nikah muda bukan hanya modal nekat. Karena usia muda saatnya emosi meledak-ledak, dan ya yang tersulit adalah gosip atau masalah kecil yang bisa besar kalau tidak diselesaikan secara dewasa, dan menurut saya, walaupun sudah menikah, karena usia yang masih muda, masih diperlukan sara-saran atau pengawasan dari orang tua agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. eits, melenceng. back to the main topics

Tahun lalu, pada bulan-bulan ini saya sedang rajin-rajinnya periska ke Dokter, nyiapin tugas-tugas dari dosen untuk perisapan UTS. yap, saya masih mahasiswa tingkat akhir ketika hamil.
Sekarang, saya sedang duduk didepan Crib Lyvi, panggilan dari Kieanna Vallerie Lyvia Tatum, anaknya sedang sibuk bermain dengan boneka kesayangan dari Mamanya (Kakak saya). Namanya memang terdengar seperti bule-bulean, tapi yang terpenting adalah arti, dan sebenarnya itu gabungan nama Inggris dan Arab, harapan Lyvi suatu saat akan melangkahkan kaki ke dua negara makmur tersebut. Saya juga tidak membiasakan memanggilnya 'Kakak' menurut saya belum waktunya, biar dia tau namanya adalah Lyvi, agar tidak bingung, nanti dikira namanya Kak Lyvi. hehe.
Lyvi Saat saya sedang menulis post ini

Kehadiran Lyvi tentu memberi warna indah dalam hidup, setiap malam terbangun menatap wajahnya yang damai, membuat hati juga menjadi damai. Walaupun ada cita-cita yang harus ditunda tapi it's all worthed ketika melihat senyum dan perkembangannya.

Lyvia and Momo
Seperti yang pernah saya ceritakan bahwa saya memasukkan Lyvi ke sekolah balita, perkembangannya menjadi pesat tapi selain itu saya juga yakin ini karena pengaruh ASI Ekslusif yang diberikan. Lyvi selalu ceria, hobbynya mendengar musik dan cerita, kalau musik atau cerita selesai dia akan mulai teriak-teriak dan membuka halaman-halaman buku, selain itu hobbynya adalah menari ketika mendengar lagu "nagnignung, lagu batak dan lagu nasional yang dilantunkan oleh Opungnya. Hobbynya yang extrem adalah 'Upside Down' diawali dengan menyanyi lalu saya akan mengankat kakinya keudara dan membalikkan badannya. Lyvi selalu tertawa sehabis aksi extremnya itu.
Kegemarannya yang lain adalah terobesesi pada Laptop. Lyvi sangat suka melihat layarnya, memencet-mencet layar dan keyboard. Kakak saya adalah temannya dalam bermain laptop. Tapi saya sekeluarga jarang mengizinkannya menyentuh laptop, karena itu Lyvi pandai merajuk pada Kakak saya, nyender-nyender sambil pelan-pelan pegang laptop, niatnya biar diijinin main, kalaupun iya diijinkan hanya 5 menit, lebih dari itu saya yakin tombol keyboard ada yang copot, lagi.

Lyvia with Daddy
Kini sudah bisa memanggil Mama, Daddy, dan memanggil saya Momo. kosa kata lain selain itu masih tidak jelas ada "bejebeje""bejebah", tapi yang selalu dikatakan "apacih" mungkin karena mendengar saya yang tadinya suka bercanda dengan bilang "apasih". Sudah tau jika dilarang dengan kata 'NO', melambaikan tangan dengan perintah 'bye atau dadah' atau ketika harus melepaskan barang dari genggaman dengan kata 'Let Go'.
Lyvi baru mulai di tatah, tapi kalau di dalam Cribnya, Lyvia sudah bisa berjalan sendiri, kalau di lantai, pasti jadinya malah joget. kalau merangkak Lyvia udah cepet banget, apalagi kalau melihat kabel bergeletak.

Lyvi tumbuh menjadi pribadi yang ramah, murah senyum, dan jail, asal tidak mendengar suara yang bernada tinggi alias cempreng. Tenaganya juga sangat kuat, tidak ada yang kuat mengenddongnya karena Lyvi suka bergulat ketika digendong, hanya Daddy nya yang kuat menggendongnya.
Mbaknya kini resign, dan saya akhirnya jadi stay at home Mom mengurus keperluan Lyvia. Saya masih terus menyesuakan diri menjadi ibu yang baik dan lebih baik lagi, tidak dipungkiri jiwa muda kadang masih bergolak ingin bebas jalan-jalan.dan kadang iri dengan teman-teman yang sedang menghabiskan masa muda berwisata keliling pulau. hihihi.

Beberapa kali juga Lyvi sakit, dikarenakan alergi yang belum diketahui asalnya. Kata dokter dia memiliki alergen yang kuat dari orang tuanya, saya dan suami. Tapi alerginya sepertinya sama seperti saya, debu, menyebabkan meler yang berkepanjangan dan juga membuatnya batuk, akhirnya beberapa kali Lyvi di fisioterapi dengan inhaler.



pemotretan Lyvia

Perjalanan Lebaran Cileungsi - Jakarta


ah tidak terasa bulan depan bayi yang tadinya terlahir hanya dengan berat 2.9kg dan terlihat kisut, akan berumur 1 tahun dengan tenaga algojo. Nak, sehat selalu ya, jadi anak baik, pinter, dan nurut ya. Jangan jadi pemarah kaya Mommy, jadi pesilat aja kaya Daddy karena tenagamu udah cocok, atau jadi pembaca puisi yang handal kaya Daddy karena kamu suka banget sama buku kan?..  jadilah anak yang berguna, dan shalihah, selalu berada dijalan yang benar ya Nak. Jangan jadi keras kepala karena banyak yang sayang ya. Love You

Jumat, 16 Agustus 2013

Lebaran

Hallo!
Bagaimana lebaran kemarin? Body beneran jadi lebar-an nggak nih? Hihihi.
Ternyata saya belum posting tentang lebaran saya ya.

Lebaran kali ini masih berada dijakarta, masih belum siap membawa anak yang masih bayi dan 'lasak' #alasan. Hehe. Selain dari itu ada beberapa saudara pihak Mama yang berlebaran di Jakarta. Kalau keluarga Papa semua berada di Pekanbaru.
Lebaran bagi saya biasanya memang hanya dirayakaan dengan kumpul-kumpul dengan keluarga mama, entah kenapa, adik-adik papa saya dari dulu selalu sibuk dengan urusan masing-masing, kadang kelihatan dari raut papa, kalau dia menginginkan adiknya datang berlebaran kepada dirinya tanpa diminta. Eh jadi curcol.

Jadi rumah kami penuh dengan riuh gempita orang-orang terkasih, ada
Tante atau Mami yel, adik perempuan satu-satunya Mama yang juga tidak pulang mudik, Om Cen yang datang sendiri ke Jakarta, istri dan anaknya berlebaran di tanjung pinang. Lalu hari ke tiga ada Om Besar, Abangnya Mama, yang juga seorang datuk, jadi kami tidak memanggil nama, justru melabeli dengan panggilan Besar yang dibuat oleh kakak saya. Hehehe.

Menikmati Lontong dan Rendang buatan Mama, menikmati bincang-bincang dan ini adalah Ramadhan pertama saya dengan anak,  Ramadhan tahun lalu saya masih hamil, tahun ini ada bayi bawel yang jadi pusat perhatian para om dan tante, secara Lyvi ini keponakan pertama dan satu-satunya.

Berlebaran kerumah mertua di cileungsi juga pasti, walaupun perjalanan menempuh waktu dua jam seperti perjalanan ke bandung. Tadinya was-was  Lyvi akan meraung-raung dimobil karena bosan, tapi ternyata dia tidur pulas karena capek setelah bermain dengan om, tante, atuk, beserta kakek neneknya.

Walaupun lebaran di Jakarta seru, saya tetap merindukan lebaran di kampung halaman, dimana jalanan di hias, ada takbir keliling, dan hari raya yang ramai dengan tamu-tamu. Di Jakarta terasa sepi..
Semoga tahun depan bisa pulkam ya,

Mohin maaf lahir batin untuk semuanya, happy Eid mubarak!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...